Belajar Revolusi Akhlak dengan Upin-Ipin

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

“lihatlah apa yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan.”

Pepatah ini yang menuntun saya membahas tentang revolusi akhlak melalui karakter Upin-Ipin. Bukan soal dari mana asal film ini dibuat dan siapa yang membuat, tetapi film ini patut dijadikan contoh dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Hampir setiap hari film ini diputar di salah satu stasiun TV Indonesia, bahkan menjadi film favorit anak-anak Indonesia.

Lihatlah keberadaan tokoh yang berasal dari berbagai Suku, Ras, dan Agama yang berbeda. Mei mei keturunan Tioghoa, Jarjit dari Ras India, Susanti dari ekspatriat Indonesia, dan Upin-Ipin yang tidak diketahui siapa Ayah Ibunya. Perdedaan yang ditunjukkan dalam film ini tidak membuat mereka anti China, Arab, antek-antek Asing, Radikal, Liberal, maupun Islam Nusantara.

Tokoh Upin-Ipin digambarkan sebagai anak yatim piatu yang tinggal bersama Kakak dan Neneknya. Mereka selalu menghormati orang yang lebih tua, kak Ros, Nenek, Atuk, tetangga, dan Guru-gurunya. Meskipun terkadang bertingkah jail, belum pernah terlihat Upin-Ipin berkata “matamu picek”, “Jancuk, jaran”,  Goblok, Lonte, tukang obat, maupun mengatai orang dengan sebutan buta mata dan hatinya.  

Aktivitas mereka sering dihabiskan diluar rumah dengan teman-temannya, main sepeda, layang-layang, memancing, dll. Sangat terlihat human valuenya dan keakraban diantara mereka. Tidak pernah main smartphone, asyik tik-tokan, orasi di youtube, apalagi  menyebar info hoax.

Beberapa adegan di serial film Upin-Ipin ini juga memperlihatkan perilaku menjaga lingkungan dan membantu pekerjaan rumah. Upin-Ipin dan kelompoknya, Jarjit, Ehsan, Mail, dan lainnya, tidak pernah bikin onar, berlagak superior, atau bahkan merusak fasilitas umum.

Sering bukan, serial Upin-Ipin ini mengangkat cerita rakyat, menyelipkan identitas Bangsa dan budayanya. Pasti kita tahu kan, pesan apa yang ingin disampaikan dalam adegan ini?. Ingat, siapa kita, dari mana kita berasal, dan dimana dibesarkan. Nggak ada ceritanya di serial Upin-Ipin Mendewakan atau mengkerdilkan Bangsa lain. Apalagi memandang sebelah mata Bangsa dan Budaya sendiri.

Kongkrit, inilah revolusi akhlak. Pembuatan film yang mengandung misi. Diputar secara berulang-ulang dan ditonton oleh jutaan anak-anak, pasti mempengaruhi pola perilaku anak. Karena anak-anak akan bertindak sesuai apa yang mereka lihat. Dalam teori Gramsci disebut Hegemoni, sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, dan di dalamnya mengandung sebuah konsep yang sengaja disebarluaskan dalam masyarakat melalui media Massa.

Revolusi akhlak tidak semudah membuat hastage, tidak sesederhana orasi tetapi tidak ditunjukkan dengan perilaku diri sendiri. Minimal pembawa pesan revolusi akhlak harus memberi contoh dengan berakhlak. (*)

, , , , , ,

About Nas

Hobi Berdiam diri
View all posts by Nas →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.