Catatan Kang Atok

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tubanliterasi.id – Mereka merasakan. Ada semacam kemuraman dalam pemberitaan. Eksistensi pers sedang diuji. Soal perannya–peran kontrol sosial.

Perkembangan pers menunjukan ada semacam kritisisme berubah menjadi pemberitaan negatif, bahkan lebih mengarah pada sisi (baca: mencari) sensasional belaka.

Adagium bad news is good news pun kian kentara terbaca. Ada semacam candu pemberitaan muram–yang tidak mampu membangun optimisme atau semacam inspirasi konstruktif terhadap masyarakat.

Berangkat dari hal demikian MAN 1 Tuban mencoba membangun kembali peran literasi bermadzab jurnalistik. Memahamkan jurnalistik konstruktif.

Ada yang bertanya, apakah peran itu bisa dilakukan kami yang masih berstatus pelajar? Saya katakan bisa. Setiap orang mampu menjalankan peran jurnalistik konstruktif. Pun siswa.

Caranya? Menulislah dengan mengabarkan peristiwa di sekitar kita dengan degup kebahagiaan. Yang mampu menginspirasi dan membangkitkan semangat optimisme.

Ada juga yang bertanya. Tapi menuliskannya itu susah pak. Saya katakan, iya. Kalo gampang itu main game poker.

Lalu? Menulislah saja dengan bahagia. Tentu, menulis dengan bahagia juga tidak mudah. Biasakan. Tentu, menjadi biasa juga tidak mudah. Iya, benar. Memang tidak ada yang muda. Kecuali ngrasani orang.

Shahdan, ada yang bertanya lagi. Ini pertanyaan terakhir pak. Kuncinya menulis itu pak. Tepatnya menulis yang konstruktif. Dengan tegas tanpa keraguan, saya katakan: membaca. Tanpa membaca anda akan kesulitan dalam menulis.

Dan, menulis yang konstruktif harus diawali dengan membaca teks dan konteks. Menempatakan diri menjadi orang yang berusaha memberikan inspirasi untuk orang lain melalui tulisan. Memanusiakan manusia dan mampu menghargai perasaan orang.

Saya pun mencontohkan sebuah tulisan. Jika anda menulis warga Sumurgeneng yang menjadi miliarder mendadak itu dengan segala eksploitasi kemewahannya, tanpa ada sisi yang mengedukasi. Maka, di nun jauh sana ada jiwa miskin yang meronta. Tetapi bukan pesan semangat untuk menumbuhkan jiwa kaya. Melainkan kesenjangan sosial yang amat– dan anda akan bertanggungjawab atas hal itu.

Mereka mulai manthuk-manthuk. Paham? Semoga. Oh, seperti itu ya jurnalistik konstruktif. (*)

, , ,