Corona dan Cerita-cerita Tentangnya

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tubanliterasi.id – Saya bukanlah pakar apa-apa, tidak tahu menahu, dan tidak memiliki kapasitas lebih untuk berbicara, maupun menyampaikan pandangan terkait dengan fenomena baru, yang sedang melanda dan membuat panik sebagian besar negara di dunia. Pandemi Virus Corona.

Jangankan berbicara mengenai virus yang tak kasat mata, kadang menilai sesuatu yang tampak wujud saja kadang kita terjebak oleh sudut pandang, belum lagi sudut kepentingan, dan sudut-sudut lain yang membuat kita bias dalam menilai sesuatu. Apalagi menilai sesuatu yang tidak bisa dilihat dari sudut pandang manapun. Karena Corona adalah makhluk yang tidak kelihatan, makhluk semi ruh yang tidak tampak di pandang mata, kecuali jika kita menggunakan alat pembesar semisal microskop.

Saya sekolah biasa-biasa saja, tak prestisius sama sekali. Tapi demi memenuhi rasa tanggung jawab sebagai makhluk sosial, yang tentu memiliki ikatan dengan lingkungan, saya akhirnya juga kepincut nulis dan ikut-ikutan membahas tentang Corona. Setidaknya ketika banyak orang membicarakan tentang Corona, kita bisa nyambung, walau mungkin juga hanya sekedar basa-basi semata.

Virus Corona atau biasa disebut sebagai Covid-19,  dalam beberapa bulan terakhir telah banyak mempengaruhi dan mengubah tatanan dunia. Setidaknya dunia yang saya hadapi. Corong media di seluruh dunia memberitakan disetiap detik dan menit tentang virus ini. Semuanya. Hampir tidak pernah absen dengan berita Corona.

Awal kemunculan virus ini  pertama kalinya terdeteksi di Wuhan Cina, kemudian menyebar dengan sangat masif di berbagai belahan dunia. Tidak luput di negara kita Indonesia. Walau kemunculan virus ini awalnya diremehkan, diabaikan,  bahkan cenderung dibuat bahan candaan, nyatanya Covid-19 ini cukup merepotkan pemerintah dan masyarakat.

Ada yang bilang “Corona tidak akan menjangkiti masyarakat Indonesia, wong kita ini sregep minum jamu.” Tak pelak statement ini memicu kenaikan harga empon-empon sebagai bahan baku utama dari jamu. Lumayan ada rejeki lebih bagi penjual empon-empon saat itu. Ada pula yang mengatakan, “Kita kebal Corona, karena doyan nasi kucing”, dan bahkan ada yang mengatakan Corona itu Komunitas Rondo mempesona. Edan.

Selain guyonan di atas, ada lagi yang menurut saya cukup ekstrim, yaitu mengaitkan kata corona dengan kalimat Waqorna di surat Al ahzab ayat 33. Oleh pemerintah dengan adanya Corona ini masyarakat dihimbau untuk di rumah saja. Sampai-sampai banyak tagar di media sosial yang bunyinya #dirumahsaja. Dan ini banyak berseliweran di media sosial. Banyak sekali.

Sebenarnya bagi yang paham bahasa Arab, apalagi paham tentang ilmu tafsir tentu tidak akan ikut-ikutan menyebarkan broadcast yang tidak benar tersebut. Kalimat Waqorna dimiripkan dan disamakan dengan Corona hanya karena memiliki substansi yang sama.

Dalam surat Al ahzab ayat 33 yang bunyinya Waqorna fi buyuutikunna yang memang memang memiliki arti “Dan hendaklah kamu tetap di rumah kamu”, ditafsirkan seperti Corona yang mana masyarakat dihimbau untuk di rumah saja. Tentu ini adalah penafsiran yang ngawur, atau hanya otak-atik semata. Hal ini sama sekali tidak ada dalam disiplin ilmu tafsir. Ini yang menurut saya tidak sepantasnya menafsirkan ayat suci hanya berdasarkan ilmu otak-atik. Bahaya.

Saya rasa statement dan guyonan tersebut adalah hal yang lumrah. Asal jangan menyinggung kitab suci atau sesuatu yang disakralkan masyarakat. Ini bisa menjadi polemik.

Wajar belaka jika kadang kita mempelesetkan sesuatu, namun harus tetap melihat segi kepantasan. Mengingat kondisi psikologis masyarakat kita, yang memang suka bergurau walau dalam hal yang serius sekalipun. Saya kadang merasa ini adalah sebuah anugerah tak terhingga dari Tuhan. Di tengah Pandemi yang mengancam nyawa sekalipun, masyarakat kita tidak kehilangan sense of humor.

Tidak hanya sekedar menjadi guyonan saja. Munculnya virus Corona juga diikuti dengan munculnya istilah-istilah baru dalam kosakata kita sehari-hari. Ada physical distancing, sosial distancing,  ada Work From Home (WFH) dan tentu juga diikuti perubahan perilaku masyarakat. Ketika Corona semakin merajalela, masyarakat dihimbau untuk jaga jarak, di rumah saja, memakai masker, rajin cuci tangan, dan masih banyak lagi protokol kesehatan yang harus diikuti dan ditaati.

Corona yang tidak kelihatan ternyata memiliki power mengubah kebiasaan umat manusia secara umum. Baik dalam dunia pendidikan, ekonomi, politik, sosial dan budaya. Semua mengalami degradasi dan pergeseran nilai.

Corona melanda tatanan keseharian kita mengalami perubahan yang cukup revolusioner. Hampir semua kegiatan dilakukan dari rumah. Selagi pekerjaan kantor bisa dikerjakan dari rumah, maka diterapkan WFH. Orang-orang keluar harus bermasker, harus cuci tangan. Tidak heran di setiap fasilitas publik ada tempat cuci tangan. Padahal awalnya tidak.

Sekolah libur, pondok pesantren dipulangkan lebih awal, masjid-masjid disterilkan dan harus mengikuti protokol kesehatan. Shalat jama’ah shafnya tidak boleh rapat, ada juga shalat Jumat yang diganti dengan shalat dhuhur di rumah. Semua mengalami perubahan nilai dan norma.

Kondisi darurat Corona yang menyebabkan sekolah libur, Pondok pesantren yang biasanya ada tradisi mengaji saat bulan puasa di pesantren otomatis juga tidak ada. Hal ini ternyata membuka  khazanah baru dalam dunia pesantren, yaitu mengaji kitab secara online.

Banyak sekali pengajian-pengajian kitab kuning yang diselenggarakan secara daring lewat streaming Facebook, YouTube, Zoom, dan berbagai platform media sosial lainnya. Ini sesuatu yang sangat baru di dunia pesantren. Namun nyatanya semua berjalan dengan cukup baik.

Ya, inilah beberapa hal dan kondisi yang dapat saya abadikan dalam rekaman tulisan ini tentang Pandemi Corona. Tentu banyak hal yang luput dari pantauan saya. Setidaknya ini menjadi pengingat kita semua di masa-masa mendatang. Bahwa dunia ini di tahun 2020 pernah mengalami satu peristiwa yang kita kenal dengan nama Pandemi Covid-19. (*)

Oleh: Joyo Juwoto

, ,