Jadi Senior kok Kayak Bu Mega, Ramashoook!

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dunia perkuliahan tak lengkap rasanya, jika tak bergabung dengan organisasi. Entah itu organisasi internal maupun eksternal. Hampir di seluruh kampus, keduanya turut mewarnai peta perpolitikan. Masing-masing organisasi kerap ambil peran utama dalam perebutan jabatan strategis, yang paling banter, biasanya mereka yang menjadi kader organisasi eksternal, entah itu GMNI, PMII, HMI, atau yang lainnya.

Setiap perjalanan sebuah organisasi eksternal, selalu ada senior yang ikut mempersiapkan “juniornya” menjadi kader tangguh.. Namun pada kenyataannya, tak jarang planning yang sudah disusun sedemikian rupa berakhir gagal akibat budaya senioritas yang masih mengakar.

Bagi saya, senioritas bukanlah menjadi momok yang menakutkan. Namun, hal ini akan menjadi momok menakutkan, apabila oknum senior keblinger yang lagaknya seperti a bastard who rules the whole organization. Di satu sisi, kita ingin bebas mengekspresikan diri di dalam organisasi. Namun di sisi lain, kita sendiri juga yang selalu merasa sungkan jika tak hormat dengan senior, maklum orang jawa.

Alangkah baiknya, jika mulai saat ini, kalian (termasuk saya) sudah mewanti-wanti untuk melawan senior-senior seperti itu. Seperti yang digagas oleh Jean Paul Sartre “l’existence précède l’essence” – Eksistensi mendahului esensi, lapar dengan kebutuhan eksistensi, namun lupa dengan integritas yang mestinya didahulukan dari pada hanya sekedar eksistensi.

Pikiran liar saya mulai menyeruak. Sudah ndak ada duitnya, sok-sokan ngatur tetek bengek di organisasi pula. Lha wong pendirinya saja ndak segitunya ngatur-ngatur. Saya sih cuma bisa ngelus dada, dan berharap senior yang seperti demikian menyadari, bahwa apa yang dilakukannya selama ini hanya akan merusak kaderisasi dan bahkan merusak organisasi yang telah lama berdiri.

Mbok ya biarkan mereka berkompetisi sesuai kompetensi mereka masing-masing, ndak usah lah sampai ikut campur dalam hal decision making internal organisasi. Sampeyan juga sadar apa ndak sih?, Kalo kelakuan sampeyan yang seperti itu hanya akan mengikis kualitas kader yang selama ini sudah setia bergabung dalam organisasi?. Sampeyan sebenarnya juga sadar apa ndak sih?, Kalau nantinya mereka yang serius dalam berproses di organisasi bakal keluar dan mungkin saja (amit-amit) bergabung dengan organisasi lainnya.

Mereka ini sudah dewasa, sudah bisa mengambil keputusan secara seksama, tahu mana haq dan mana yang bathil. Anda sebagai senior, itu mbok ya bisa menjaga jarak dengan mereka, jangan kok tiap kegiatan selalu tampil. Sebenarnya sampeyan ini punya ambisi apa sih?, Terheran-heran saya.

Jangan salahkan, suatu saat mereka yang terlalu sampeyan kekang akan melawan, karena tak ada asap jika tak ada api. Coba saja, sampeyan berganti posisi dengan junior sampeyan yang masih aktif, dan merasa terkekang, jengkel bos!. Dilawan dianggap ndak punya sopan santun, ndak dilawan, bakal terus menggurita dan merusak organisasi.
Sudahlah mbak/mas, mbok kalau masih mau berproses, langsung saja gabung. Bukan kok sudah tidak menjadi anggota organisasi, eh malah sok ngatur-ngatur kayak bu Mega. Ramashoook!. (*)

, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.