Jalan Terjal Pencari Rezeki Di Tengah Pandemi

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tubanliterasi.id – Di sini, saya mau bercerita, bagaimana dinamika di tengah pandemi Covid-19. Sebagai seorang perantauan yang ada di Tuban. Sudah cukup lama saya di bumi wali ini. Sampai hafal nama desa, bahkan banyak mendapat teman baru di sini. Mulai dari berbagai lapisan masyarat, terutama masyarakat pedesaan, pasar, koperasi, pedagang keliling, kalangan akademisi. Ya bagaimana lagi, saya bekerja sebagai marketing di sebuah store Handphone yang cukup besar di kota Tuban. 

Mendapat mandat dari founder Gerakan Tuban Menulis (GTM) untuk urun menulis. Teman-teman tentu sudah tahu, di tengah situasi era globalisasi, dan perdagangan bebas seperti sekarang ini. Banyak tantangan baru dan banyak hal yang harus di pelajari. Begitupun karyawan, promotor handphone, berjibaku dengan dunia luar. Mematuhi protokol-protokol baru, mengejar target, dan ancaman PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) bila tidak achive target. 

Saya teringat awal-awal pandemi sebelum puasa 2020, banyak desas desus. Mereka ( promotor-sales Red) harus chiev target yg di tentukan perusahaan, salah satu syarat untuk tetap bisa bekerja.  Banyak kawan saya yang terkena pengurangan karyawan, ataupun diberhentikan dan di rumahkan. Kasihan, saya pribadi tak bisa membayangkan betapa sedihnya. Mereka ditengah pandemi malah kehilangan pekerjaan. 

Di samping itu teman-teman yang masih bertahan bisa bekerja, juga tak kalah pusing. Semakin sepinya orang yang keluar rumah. Karena pemerintah mengajurkan #stayathome. Rekan-rekan harus banyak terjun ke lapangan, mengunakan berbagai cara, agar produk atau brand yang ia bawa tetap laku dan exis ditengah masyarakat.

Makanya teman-teman jangan kaget di pusat kota Tuban. Para teman-teman sampai di pinggir jalan, berjubel, meskipun terkesan semrawut. Bahkan sudah mendapatkan teguran dari pihak terkait ( Satpol pp) mereka dianggap mengganggu perjalanan. Bagaimana tidak, teman-teman memakan setengah badan jalan (Red), sambil teriak-teriak, dan mempromosikan produknya. Itu tidak bisa dihindari, karena tuntutan dari pihak toko juga preasure target yang dibebankan pada karyawan. Bersaing suatu hal yang biasa di dunia marketing. Untuk bisa bertahan sebagai profesinya. Terkadang sudah di rewangi gitu, belum bisa menjual produknya. 

Kita coba bahas di sisi lain. Di tengah pandemi juga berdampak pada masyarakat, banyak anak sekolah terpaksa belajar di rumah. Tugas dari sekolahan di kerjakan lewat Handphone, lewat app WA.

Ada kejadian menarik; Orang tua yang belum punya HP android, berbondong-bondong mencari info HP yang cukup mumpuni  agar sang buah hati tidak ketinggalan pelajaran tugas dari sekolahan. Di tengah kondisi seperti ini, para masyaratkat kalangan bawah tentu tidak mudah. 

Saya sering menemui, para orang tua harus gigit jari. Di kala dalam masa sulit, harus bersusah payah mencari Handphone harga 500 – 600 ribu. Tentu kita tahu HP baru harga segitu, hanya bisa membeli merk handphone yang kurang terkenal, RAM kecil dan memori internal juga tidak besar. Para orang tua pulang dengan perasaan kecewa, pulang, kembali ke rumah untuk mencari hutangan ke sana kemari. Lantaran kapasitas HP yang sesuai harganya cukup mahal. Sehingga mau tidak mau mencari harga HP baru satu jutaan. Saya ingat, selama pandemi kemarin pasokan stok dari suplier tidak lancar. Bahkan cenderung langka, kantor saya susah mendapatkan barang.  

Kita juga melayani kredit, kreditpun tidak mudah Acc. Para pembeli mengajukan persyaratan 3 dokumen, ( KTP, SIM, KK) kita proses. Kadang  itupun tidak ACC, terpaksa para orang tua, sekali lagi menghela nafas panjang. Saya tau perasaan mereka.  Namun saya tidak bisa berbuat banyak.  Yang menentukan Acc tidaknya pusat leasing yang bekerja sama dengan toko. Memang selama pandemi tingkat aproval Tuban turun. Yang biasanya mudah Acc menjadi susah. Ini menjadi salah satu problem yang memberatkan pelanggan. Bisa di bayangkan orang-orang yang kurang mampu bertambah berat beban hidup mereka. Contoh, Jauh-jauh dari Desa Bangilan datang ke kota Tuban untuk pengajuan kredit, tetapi tertolak. Gak bisa bawa handphone untuk sang putra tercinta di rumah. Yang rencana HP tersebut digunakan untuk mengerjakan tugas dari sekolah selama pandemi. 

Begitulah, keniscahayaan yang terjadi di tengah pandemi Covid-19. Untuk masyarakat yang kurang mampu, para pekerja dan pedagang kecil sangatlah berat. Perlu di garis bawahi.  Bahwa, masyarakat Tuban yang saya temui tidak pernah menunjukan tanda-tanda keputusasaan. Mereka terus survive dan optimis. 

Dengan keyakinan yang utuh para pedagang kecil selalu istiqomah membuka tokonya, meskipun laba yg di dapat tidak begitu besar.  Begitu juga untuk para pejuang aspal ( sales-marketing) mereka pagi siang malam tak henti, menawarkan produk-produk yang mereka bawa, meskipun harus mempertebal lagi kesabaran agar laku produknya. Beda lagi untuk para nelayan di Kecamatan Palang, hasil tangkapan mereka di jual murah selama pandemi. Pandemi bukan akhir dari segalanya. Kita semakin terpacu, banyak kreativitas baru yg muncul untuk menjawab tantangan zaman. 

Memakai istilahnya mas Alib isa, Seorang Desainer grafis kebanggan kota solo ; 

“Kita buktikan bahwa ‘urip iku urup’. Saling suport satu sama lain, saling menyemangati, kompak melawan virus ini dan membantu bagi yang membutuhkan”. Karena hidup itu harus memberi manfaat. Harus menyala dan menerangi. Jangan malah bikin gelap jalan orang lain. Untuk terus menumbuhkan optimisme. Saya teringat pesan dari salah satu guru di desa saya. Kalau kita kalah di satu sektor, janganlah kita kalah di semua sektor. Kalau kita kalah di satu lini, Janganlah kita kalah di semua lini , kalau kita sekarang kalah, janganlah generasi kita nanti juga kalah. Kalau kita kalah sekarang, jangan kedepan kita kalah. Jadi kita ini berjuang harus selalu punya rencana, punya planing dan punya rasa optimisime.  Semoga segera berlalu pandemi ini serta selalu sehat untuk kita semua. Berjuanglah dengan cinta dan kenekatan. (*)

Oleh: Sahrul Ferdiansyah

, ,