Kader Pergerakan Baperan, Belajarlah yang Bijaksana!

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tubanliterasi.id – Entah apa yang sedang membuat pikiranku gundah gulana, melihat kader pergerakan disekelilingku bicara ngalor-ngidul tidak jelas merasa diintimidasi oleh senior, disuruh dukung calon dalam Kongres organisasi pergerakan. Entah, apa yang membuat orang-orang ini merasa menyesal dan rugi jika kader delegasi dan calon yang direkomendasikan tidak jadi Ketua Umum (Ketum).

Mbok ya sudah, biarkan saja kader proses dan menemukan dunianya sendiri, biarkan mereka proses dengan sehat. Kalau toh ada kepentingan coba dikomunikasikan dengan baik, biar nanti kader itu bisa menangkap pesan yang tersirat.

Ah sudahlah, saya juga tidak tahu dengan pola yang dibangun oleh para kader hari ini. Mungkin saya bukan alumni yang cerdas soal politik. Tapi saya yakin, mencintai prinsip intelektual itu lebih berharga dari pada mencintai kepentingan politik yang sifatnya hanya sesat.

Dasar kader karbitan, yowes ben, itu yang pernah melintas di telinga saya. Tapi tidak apa, kunci keberhasilan proses di organisasi itu tidak bisa diukur dari pinter politik. Karena diakui atau tidak, kader yang bisa hidup dimana-dimana adalah kader yang mempunyai kapasitas dan kredibilitas dalam hal pengetahuan.

Kita cukupkan sampai disini dulu, yang saya risaukan pada hari ini bukan soal hasil Kongres, tapi bagaimana kualitas kader semakin meningkat setelah memiliki ketua umum baru, apalagi ia mempunyai orientasi gerakan organisasi yang berbasis output (hasil/karya). Ini yang seharusnya ditunggu, sejauhmana kiprahnya. Bukan begitu, sahabat/i dan kanda-dinda. Yang penting proses serius dulu, jangan terlalu ambisi dalam politik.

Pokok, Jangan merasa berat berjuang dalam organisasi, biarkan saja Dilan yang berat menanggung rindunya pada Dek Milea.hehe.

Tapai tidak tahu ding, mungkin  itu pilihanmu yang kuat dan rasa cintamu pada organisasi. Sehingga saking cintanya, begitu dalam, bagai Palung Mariana. Jadi, walaupun alumni memberikan gambaran jelas, hanya ia didepan, dibelakang tidak. Akhirnya yang paling sampean anggap benar, itu adalah prinsipmu sendiri.

Cukup disini dulu ya, memang yang namanya proses di organisasi itu berat. Sebenarnya para alumni itu hanya merindukan  masa-masa dia proses. Mempunyai tinggalan baik, bahkan mempunyai prestasi gemilang pada masanya. Sehingga ketika kader dinasehati tidak nurut, dianggap kurang baik, bahkan kata-kata paling kasar pun akan keluar. Entah apalah itu, tugas alumni hanya sebagai pengantar untuk menjadikan kader yang sesungguhnya. Di luar itu tanggung jawab kader sendiri.

Tugase alumni iku cuma minterne kader, geneo gak pinter, serahno karo sing nggawe urip. Dadi cek ikhlas wolak-walik”.

Ingat, ada sebuah pepatah mengatakan, ‘memindahkan batu sebesar gunung itu lebih mudah, dari pada memberi nasihat pada orang yang bodoh dan sombong. (*)

Oleh: Wawan

, , ,