Lubang Jalan Mengancam

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

RUSAK: Banyaknya lubang jalan mengaga, Dijalur pantura, Kecamatan Jenu, tepatnya di SPBU jati peteng yang berpotensi membahayakan pengendara. Jalan tersebut saat ini kondisinya banyak ditemui lubang dan bergelombang membuat para sopir dan pengendara motor merasa takut terjatuh. Jalan tersebut pasalnya sudah mengalami perawatan dan ditambal, tapi nyatanya ketika diguyur hujan hancur dan lubangnya malah semakin lebar. Jika jalan tersebut tidak segera diperbaiki maka akan menimbulkan korban.

Masak nunggu korban kecelakaan lagi di dandani. Bayar pajak telat didenda, Jalan bolong-bolong ngancam nyawane wong di njarno. Saut seorang supir sambil berlalu”.

Seperti diketahui, Jalur pantura merupakan jalur ekonomi nasional. Tapi tidak didukung dengan kualitas sarana prasarana yang baik. Padahal perbaikan jalan dilakukan beberapa kali pada tahun 2019. Namun aktivitas kendaraan besar yang cukup tinggi pada jalur tersebut membuat kerusakan selalu terjadi.

Ini menunjukan adanya kegagalan konstruksi yang mengakibatkan perkerasan jalan yang kurang berkualitas, adalah hal yang mungkin terjadi di setiap kegiatan konstruksi. Bahkan hal ini sudah dicantumkan dalam undang-undang No.19 tahun 1990 tentang jasa kontruksi yang mensyaratkan agar kegagalan bangunan dimasukkan didalam kontrak agar bisa menjaga asas keadilan. Faktor penyebab kegagalan konstruksi ini pada dasarnya sangatlah luas tergantung aspek yang dilihat. Mulai dari pelaksanaan proyek yang tidak benar, sistem pengawasan, kerusakan peralatan, instalasi produksi tidak tepat, gangguan selama proyek hingga berbagai faktor alam yang menyebabkan kerusakan jalan. Bentuk dan penyebab kerusakan jalan yang terjadi di ruas jalan bentuknya pun sangat beragam, mulai dari retak-retak (cracking), berlubang (pothole), bergelombang (corrugation) hingga membentuk alur cekungan jejak roda kendaraan (rutting) dan genangan aspal di permukaan jalan (bleeding). Maka, apa saja faktor – faktor penyebab kerusakan jalan? mari kita bahas bersama rekan – rekan pengguna jalan yang budiman. 

  1. Kadar Aspal Tidak Sesuai Job Mix Formula (JMF), Job Mix Formula (JMF) adalah komposisi material penyusun aggregat aspal yang dibuat di laboratorium sebelum pelaksanaan lapangan dimulai. JMF ini dijadikan acuan untuk pekerjaan aggregat aspal di lapangan. Jika dalam JMF menyebutkan kadar aspal yang harus dipakai minimal 6,2% maka kadar aspal yang digunakan di lapangan haruslah minimal atau lebih dari 6,2% juga. JMF ini tidak paten selama proyek melainkan bisa berubah sesuai kondisi lapangan dan harus di setujui oleh Konsultan pengawas.
  2. Suhu Penghamparan Aspal Dilapangan Tidak Sesuai Spesifikasi, Salah satu penyebab kerusakan aspal yang sering terjadi adalah aggregat aspal sudah dingin ketika sampai di lapangan. Alasannya adalah jarak AMP (Asphalt mixing plant) dengan lokasi pengaspalan terlalu jauh. Namun alasan itu tidak bisa dibenarkan karena kontraktor terikat dengan spesifikasi dan kontrak.
  3. Tanah Timbunan Belum Padat, Apabila tanah timbunan belum padat sebaiknya jangan terburu – buru untuk menimpa dengan lapis pondasi. Walaupun campuran lapis pondasi menggunakan material yang sangat baik, jika terjadi penurunan tanah dasar akan terjadi kerusakan parah.
  4. Pengaspalan Dilakukan Saat LPA dan LPB Belum Kuat, LPA adalah lapis pondasi atas yang terletak tepat di bawah aggregat aspal sedangkan LPB adalah lapis pondasi bawah yang terletak di bawah LPA dan diatas tanah dasar. Seringkali dalam pelaksanaan di lapangan lebih mengutamakan percepatan tanpa memperhatikan kualitas pekerjaan. 
  5. Jumlah Passing Pemadatan Kurang, Faktor penyebab lainnya terjadi kerusakan pada jalan aspal adalah kurangnya pemadatan menggunakan alat berat.
  6. Komposisi Abu Batu, Banyak kontraktor yang sering mengabaikan peranan material abu batu ini. Padahal dalam campuran aggregat aspal abu batu sangat membantu dalam kerekatan, (arwinata.blogspot.com).

Beberapa faktor ini yang kemudian sering dilanggar oleh pemborong atau kontraktor. Sehingga menimbulkan mudah rusaknya kontruksi jalan, padahal jalan menyangkut nyawa banyak orang.

Kalau masyarakat boleh berspekulasi juga ada beberapa hal yang mengakibatkan rusaknya jalan; Pertama, Muatan kendaraan yang melebihi kapasitas, Kedua, Pengawasan timbangan kendaraan yang lemah.

Fakta ini dibuktikan oleh seorang supir dam truk salah satu perusahaan pencucian pasir dijalur pantura, Sebut saja namanya Paijo, “sebenarnya kapasitas muatan dam truk yang saya bawa ini hanya 38 ton, tapi karena adanya intervensi dari perusahaan harus tetep nurut 40 ton. Karena menurut perusahaan itung cari untung bisa meminimalisir kos antar barang, dan bukan lagi rahasia umum mas. perusahaan tidak akan peduli soal resiko yang terjadi dijalan” ,tuturnya.

Jika ini tidak menjadi perhatian, maka akan menimbulkan problem yang kompleks. Karena jalan menyangkut nyawa banyak orang. Sehingga dinas terkait harus mengambil sikap secara cepat dan tepat (*).

,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.