Membangun Sistem Tata Nilai Sekolah Dari Rumah

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tubanliterasi.id – Dunia sekolah bagi anak-anak merupakan rumah kedua dalam belajar. Di sekolah anak-anak belajar banyak hal, mulai dari belajar berinteraksi dengan orang lain, belajar bersosialisasi, belajar mengambil keputusan, dan masih banyak lagi. Sistem tata nilai sejatinya sudah terbentuk melalui kehidupan di sekolah, namun sayangnya belum sepenuhnya sekolah menerapkan hal tersebut. Imbasnya, anggapan anak-anak di sekolah adalah hanya belajar, mengerjakan tugas, dan dinilai. Belum tertanam oleh mereka, bahwa belajar di sekolah juga merupakan pembelajaran tata nilai untuk kehidupan mereka di masa depan.

Istilah sistem tata nilai biasanya selalu dikaitkan dengan moral, etika, dan karakter. Keempat istilah itu memang sekilas hampir sama, tetapi secara epistemologi mereka berbeda karena peletakan konsep istilah itu sendiri. Guru dalam mengimplementasikannya dapat melakukannya secara beriringan atau bersamaan. Tatkala guru masuk kelas sambil mengucapkan “Apa kabar kalian semua hari ini?” kemudian siswa dengan riang menyaut “Baik buuu…”. Sekilas jawaban itu adalah hal yang biasa di telinga kita, namun dibalik itu, guru mempunyai stimulus tertentu untuk mengungkap fakta kondisi siswa saat itu.

Mungkin bisa dibayangkan, jika jawaban si murid ada yang berbeda “kabar burung buuuu….” misalnya. Guru yang mengetahui hal tersebut tentu harus semangat untuk mencari tahu lebih dalam lagi mengapa ada murid yang berbicara seperti itu. Di saat itulah momen yang tidak boleh terlewatkan oleh guru yang sedang menjalankan misi pendidikan. Pasalnya melalui kejadian seperti itu, guru dapat dengan mudah untuk memasuki kondisi psikologi siswa. Para siswa diajak untuk berdiskusi mengapa ada sebagian anak terbersit mengucapkan kalimat tersebut, bagaimana kalau guru dan siswa membuat aturan main di kelas untuk berbicara yang baik? Ya, di sinilah guru mulai menanamkan pendidikan nilai kepada para siswa.

Ilustrasi tersebut merupakan gambaran kecil terkait pendidikan nilai. Prinsipnya sama saja, di manapun kita berada, pasti ada aturan main yang diatur berdasarkan kesepakatan bersama untuk mengatur tata perilaku individu atau kelompok di dalamnya. Tak ubahnya dengan situasi dan kondisi seperti sekarang, di mana pandemi sudah menyebar ke segala daerah. Pemerintah memutuskan untuk diberlakukan sekolah dari rumah. Para siswa yang semula tempat belajarnya di sekolah, kini terpaksa harus melakukan kegiatan belajarnya dari rumah. Hal ini membuat para guru dan siswa yang belum siap menghadapi situasi seperti ini menjadi kebingungan, akan seperti apa kualitas pengajaran jika peraturan itu benar-benar diterapkan.

Jika dimaknai dari sudut pandang lain, situasi seperti ini hanya merubah pola sistem belajar dengan tetap mengedepankan sistem tata nilai yang sudah disepakati bersama antara guru dan siswa. Dengan menerapkan sistem tata nilai di sekolah, para siswa dapat belajar dari rumah seperti biasa layaknya di sekolah. Sistem tata nilai yang telah dibuat misalnya, sebelum belajar didahului dengan berdoa sesuai agama dan keyakinannya masing-masing, disiplin waktu dalam belajar, mempunyai sikap saling menghargai kepada sesama, mengedepankan kejujuran dalam bertindak, berbicara, dan berperilaku, dan masih banyak sistem tata nilai yang dapat dikembangkan.

Lantas bagaimana aturan sistem tata nilai yang sudah dibuat di sekolah jika diimplementasikan di rumah? Bagaimana jika orangtua kurang begitu memantau kegiatan anak belajar dari rumah? Apakah kondisi psikologi anak akan semakin tertekan dengan kegiatan belajar dari rumah?

Sejatinya, guru dapat memberikan contoh kebiasaan baik yang ditanamkan pada anak atas kesadarannya sendiri. Hal seperti ini, jika dianalisis menganut paham aliran klasik, yakni Behaviorisme yang bermula dari pemberian stimulus positif, dengan harapan respon anak juga positif. Sehingga hasil dari penanaman tersebut mampu menjadi kebiasaan baik sang anak untuk kehidupannya, di manapun dan dalam situasi apapun anak itu berada.

Istilah yang mungkin dapat dipakai untuk untuk menanamkan sistem tata nilai adalah “aturan main”. Dalam aturan main, seorang guru membuat beberapa poin tentang aturan-aturan apa saja yang wajib dipatuhi siswa dalam bersikap di kelas, kemudian guru bersama siswa membuat kesepakatan. Aturan main tersebut tentunya mempunyai konsekuensi tersendiri jika salah seorang siswa melakukan pelanggaran dalam aturan main tersebut. Konsep seperti ini tentu lebih ditekankan pada jenjang pendidikan dasar, yang mana tahap psikologi perkembangan anak masih dalam tahap mudah menerima masukan. Sehingga yang ditanamkan dalam aturan main yang dibuat berisi hal-hal positif yang harus dipatuhi oleh anak.

Berdasarkan tahap perkembangan kognitif, anak yang berada di kelas rendah (kelas 1-3) jenjang sekolah dasar, yakni antara usia 7-11 tahun mereka berada pada tahap operasional konkret. Di mana pada tahapan tersebut anak sudah mampu memahami suatu masalah dari sudut pandang orang lain. Sifat “egosenstris” perlahan menghilang, kemampuan mengingat dan memahami konsep sebab-akibat secara rasional dan sistematis juga mulai meningkat.

Kembali lagi ke aturan main! Jika kita melihat dari perspektif yang kebanyakan, sistem aturan main ini sering kali dimaknai sebagai sejumlah tata tertib yang wajib dipatuhi oleh siswa. Mereka memandang hal tersebut hanyalah tulisan yang tidak ada pengaruhnya jika sudah berada di luar lingkungan sekolah, bahkan dirumah aturan tersebut tidak berlaku. Mereka mau berperilaku patuh terhadap aturan main hanya agar tidak mendapatkan hukuman semata.

Lebih aneh lagi, ketika pihak sekolah merasa berhasil jika pelanggaran tata tertib di sekolah jumlahnya minim dengan cara mendidik seperti itu. Sehingga, guru pun merasa bebannya ringan karena tidak ada masalah pada muridnya. Hal tersebut yang menjadi komentar unik oleh Thomas Wibowo yang disebut sebagai “kebiasaan artifisial” (kompasiana.com), artinya kebiasaan yang dibuat-buat agar terlihat baik di dalam lingkungan sekolah, namun di luar sekolah kebiasaan tersebut justru tidak diterapkan.

Guru jenjang pendidikan dasar harus mampu memahami adanya kebiasaan artifisial tersebut. Karena dengan memahami itu, guru mampu membuat beberapa antisipasi dalam menyusun aturan main agar benar-benar diterapkan oleh anak secara jujur dari dalam hati. Guru harus mampu menjadikan aturan main sebagai sarana yang menyenangkan dan tidak menekan pada kebiasaan anak. Disusun secara demokratis dan menyenangkan, agar ketika anak ketika menerapkannya di sekolah menyadari bahwa dia adalah seorang murid yang harus mempunyai karakter baik, tidak hanya di sekolah, melainkan di lingkungan luar sekolah dan rumah.

Guru juga harus selalu berkomunikasi dengan pihak orangtua siswa, agar misi pendidikan yang dilakukan guru berjalan seimbang. Karena peran dari orangtua dalam membentuk karakter anak sangatlah penting. Guru setelah sepakat dengan para siswa, selanjutnya guru berkomunikasi dengan para orangtua siswa tentang aturan main ketika berada di sekolah ataupun kelas. Sehingga misi pendidikan yang dilakukan guru dapat dipahami oleh orangtua siswa dengan tujuan aturan main tersebut tetap diterapkan ketika berada di rumah.

Penyusunan aturan main haruslah berprinsip kepada demokrasi, agar siswa menjadi generasi yang bertanggung jawab di masa depan. Lantas bagaimana jika aturan main itu diterapkan di kelas rendah? Pada dasarnya anak pada jenjang pendidikan dasar yang berada di kelas rendah (1-3 SD), mereka dapat dibimbing untuk memahami sesuatu yang abstrak dengan cara mengkonkretkan sesuatu yang abstrak tersebut ke dalam suatu sistem pembelajaran atau aturan main yang dibuat bersama-sama.

Misalnya, dalam pembuatan aturan main, guru menerapkan sistem modal Rp 5.000,- kepada masing-masing siswa, dan setiap poin dalam aturan main tersebut mempunyai konsekuensi denda dengan jumlah yang bervariasi. Tentunya sistem modal tersebut tidak berbentuk uang, namun hanya angka yang nantinya dijadikan modal anak selama menjalani proses belajar mengajar. Jika terdapat anak yang melanggar aturan main yang telah disepakati, maka modal tersebut berkurang sesuai dengan pelanggaran yang telah dilakukan. Hal tersebut selalu dievaluasi guru pada tiap akhir pekan dalam pembelajaran. Di mana setiap evaluasi tersebut terdapat siswa yang modalnya masih banyak atau bahkan masih utuh, bisa dikatakan bahwa siswa tersebut selalu mematuhi aturan main dan siswa.

Seyogyanya jika aturan main seperti itu dikemas secara demokratis-menyenangkan maka akan lebih berkesan lagi terhadap siswa. Beberapa aturan main yang dilakukan siswa di sekolah yang didasari rasa tanggung jawab dan dilakukan dengan hati, pasti membuat kegiatan sehari-hari siswa lebih bermakna. Imbasnya, di manapun siswa itu berada, akan senantiasa mematuhi aturan main tersebut, lebih-lebih ketika siswa berada di rumah. Dengan harapan, aturan main yang dibuat dapat membentuk karakter-karakter yang tangguh di manapun, kondisi seperti apapun, dan kapanpun siswa akan selalu mematuhi aturan main tersebut baik di sekolah ataupun di rumah. (*)

Oleh: Muhammad Faishal Haq

, , ,