MOGE Si Motor Penjajah

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Belakangan ini sempat viral, gegara oknum Club Moge keroyok anggota TNI di Bukit Tinggi yang berujung di jeruji besi. Kabarnya, pengeroyokan ini ditengarai aksi geber-beger knalpot si Moge. Maklum lah, motor gede, otomatis suaranya juga gede, meskipun nggak digeber. Harganya pun nggak tanggung-tanggung, kalau mimin yang beli, bisa jadi harga diri se-isinya ikut kejual, itu pun kalau laku

Siapa sih yang nggak mangkel dengerin bisingnya geberan knalpot Moge, jangankan kita, Semut aja pingsan dengerinnya. Andai geberan Moge itu selembut suara Nella Kharisma, mungkin orang sepanjang jalan akan bilang “Tarik Siis”.

Bener nggak sih, secara tidak sadar, adanya club Moge ini muncul stereotip ekslusifitas dan merasa superior?. Katanya sih raja jalanan, pas iring-iringan dapat pengawalan polisi, lampu merah nggak berlaku?. Serius nanya.

Menyambung masalah pengeroyokan, arogansi yang dilakukan oknum Club Moge tersebut tak sepatutnya dilakukan. Apapun alasannya, segala kekerasan fisik adalah bentuk Pidana. Tapi, mungkin lagi apes aja, kebetulan yang dikeroyok adalah anggota TNI. Tahu sendiri kan, bagaimana kalau Jiwa korsa TNI diusik.

Tahu nggak sih, Motor Gede Harley-Davidson di Indonesia awalnya adalah motor Penjajah. Motor ini pertama kali datang ke Indonesia diperkirakan tahun 1920an, dibawa oleh Penjajah Belanda. Saat perang dunia ke 2 berkecamuk, dan belanda menyerah kepada jepang, semua inventaris milik kolonial belanda, termasuk Moge diambil alih oleh tentara Jepang.

Selanjutnya, berpindah tangan ke Pemerintah Indonesia setelah Jepang meyerah kepada Sekutu dan merdeka pada tahun 1945. Akhirnya, Moge-moge tersebut banyak digunakan sebagai kendaraan operasional di perkebunan bekas milik Belanda. Karena memikat banyak Jutawan di Indonesia, Moge mulai diproduksi masal di era 90an. Meskipun sebelumnya sudah banyak berseliweran di jalanan Ibukota.(*)

, , , , , ,