Pegebluk dan Keresahsalehan Sosial

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tubanliterasi.id – Pagebluk atau pandemi oleh Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dibicarakan di mana-mana. Ditakuti siapa pun. Nyaris semua spasi media sosial membincangkannya. Ada yang bernada ilmiah. Ada yang bernada gurauan. Ada yang menyesatkan. Ada yang mendidik. Ada yang kemudian dihubungkan dengan   kajian-akajian sejarah, agama, dan sejenisnya. Pada muaranya Covid-19 menjadi isu global dan semua negara membangun benteng untuk menangkal  penyebarannya.

Virus corona akhirnya terbukti memasuki Indonesia. Setiap hari mengalami peningkatan jumlah orang-orang yang terinveksi. Pemerinah pun mengambil kebijakan populis. “Hindari kerumunan  untuk memotong mata rantai penyebarannya”. Maka, sejak  tanggal 16 Maret 2020 hingga empat belah hari ke depan semua anak sekolah diliburkan. Imbauan tidak ada kegiatan yang memungkinkannya berkumpulknya banyak jamaah di tempat-tempat ibadah, sarana rekreasi, dan ruang publik. Dianjurkan tidak keluar rumah jika tidak mendesak. Bahkan presiden mengimbau “kita saatnya belajar, bekerja, dan beribadah di rumah”.

Mengapa interaksi masal dibatasi? Jawabannya adalah dengan kontak fisik langsung orang yang terinveksi dengan orang lain, besar kemungkinan peristiwa penularan terjadi. Logika sederhananya adalah jika terdapat satu penderita yang kemudian menularkan kepada satu orang dan demikian seterusnya  maka akan terjadi penyebaran  secara cepat dan masif. Semoga saja tidak terjadi. Syaratya tentu setiap pribadi memiliki imun yang cukup sehingga tubuh mampu melawan dan mengalahkan si virus.

Sekarang yang lebih penting selain mengeliminasi penyebaran sebagaimana cara berpikir kita selama ini, maka yang lebih penting lagi adalah membangun kekebalan tubuh. Bagaimana caranya?

Penyakit dan Keresahan Sosial

Ada hal yang selama ini kontradiktif manakala kita sedang berihtiar membangun kekebalan tubuh kita. Tubuh tidak akan produktif membangun imun manakala secara psikologis dia tidak bekerja dengan baik. Unsur psikologis lebih menentukan dalam menguatkan jaringan tubuh, selain faktor fisiologis.

Berita-berita perihal coronavirus yang membanjir menyebabkan pola pikir bawah sadar masyarakat bahwa Covid-19  serupa vampir ataukah zombi. Keadaan psikologis ini membawa keresahan bagi masyarakat. Keresahan  membawa dampak ketakutan. Ketakutan menyebabkan kesedihan. Kesedihan menyebabkan sel tubuh rapuh. Kerapuhan sel tubuh menyebabkan kekuatan imun tubuh drop. Imun tubuh yang drop menyebabkan virus mudah meluluhlantakkan jaringan tubuh. Maka dengan kita takut, khawatir, sedih, resah, semakin mudahlah tubuh ambruk oleh penyakit akibat virus.

Dalam konteks ini, kita ingat pesan luhur agama kita. “Tahukan siapakah orang yang berbahagia (baca: sehat) itu ialah orang-orang yang selalu ingat Tuhannya pada pagi dan petang”. Kesadaran mengingat Tuhan di dalamnya mengandung pegertian betapa Tuhan selalu bersama kita. Tuhan melindungi kita. Tuhan dekeng  kita. Maka, apa pun dan siapa pun yang mengancam kita akan luluh lantak oleh keyakinan kita betapa Tuhan senantiasa membela kita. Dalam ekstase jiwa yang demikian rasa tenang dapat ditumbuhkan. Ketenangan inilah sumber lahirnya imun tubuh yang efektif.

Kita boleh khawatir. Kita boleh takut. Tetapi toh virus yang kita takut dan khawatirkan itu ya makhluknya Allah. Maka, gelombang psikologi yag perlu kita setel dalam diri kita adalah “ya Allah aku berlindung dari semua penyakit atas kehendak-Mu ya Allah”. Tenanglah hati ini sambil secara hukum musabab kita menjaga diri untuk tidak terjangkiti Covid-19.

Dalam perspektif kajian sosial-religius, masyarakat butuh rasa yang rileks, keyakinan bahwa Allah maha penolong, menjaga kebersihan, berolahraga, hidup secara sosial, menolong, solider, dan bersedekah. Lama kita sebagai orang beragama diajarkan betapa setiap penyakit dari Allah. Kesembuhan dari Allah. Jalan-jalan musabab kita sehat dan jauh dari sakit adalah sedekah dan silaturahmi.

Pagebluk dan Kesalehan Sosial

Sejak dulu nenek moyang kita telah mengenal pendemik atau pagebluk. Dalam makna sederhana, pagebluk adalah menyebarnya penyakit secara cepat dengan korban dalam jumlah besar dan skala geografis meluas. Untuk mengatasi pagebluk, orang-orang timur sudah terbiasa dengan tradisi weweh. Gerakan weweh atau sedekah atau makan bersama ini sejalan dengan ajaran agama meski kajian ilmiah belum mampu menyusun deskripsi yang sahih perihal ini dalam upaya menolak balak masyarakat.

Ada cara berpikir lain dalam melawan penyakit. Penyakit dapat dilawan melalui gerakan kesalehan sosial berupa weweh atau  sedekah. Cara berpikir yang kontradiktif ini berbeda dengan cara pandang ilmiah.  Cara berpikir ilmiah didasarkan pada cara berpikir sebab-akibat, logika, dan keilmiahan. Cara bepikir “sedekah sebagai obat” adalah cara berpikir yang berlandaskan keyakinan. Mengapa tampak berbeda cara berpikir ilmiah dengan keyakinan? Jawabannya sederhana. Cara berpikir keyakinan sesunggauhnya ya ilmiah. Hanya saja, cara berpikir ilmiah belum mampu menjelaskan cara berpikir keyakinan.

Yang kemudian menjadi hikmah virus corona ini adalah meletakkan keyakinan sebagai panglima. Toh yang membuat virus ya Allah SWT. Logikanya, perlu meminta yang membuat virus agar virus hidup pada tempat selain mamalia jenis manusia.  Sejalan pikir ini dalam logika kasih, bersahabatlah dengan virus. Setiap makhluk memiliki hak hidup. “Hidupkan kami dalam bersanding dengan makhluk-Mu  ya Allah dengan harmonisasi dan semangat cinta”.

Manusia memang makhluk paradog. Dia mulia, digdaya, pemikir dan berkuasa.  Sebaliknya, mereka juga rapuh dan rendah. Mereka bisa mati karena kelaparan, ditembak, dibom, diracun, dan ringsek oleh rusaknya sel tubuh karena makhluk kecil yang namanya virus.

Di balik merebaknya Covid-19, secara budaya kita perlu membangun kesadaran masyarakat  bahwa menciptakan pemertahanan tubuh lebih penting daripada sibuk melihat kekuatan virus sebagai lawan. Penting memang memahami kekuatan lawan untuk menemukan titik lemahnya agar pertahanan kita semakin kokoh. Pemertahanan kekokohan tubuh dan jiwa ini dapat dilakukan dengan memperkuat keyakinan bahwa Allahlah yang menyehatkan kita, menempatkan virus pada tempatnya yang bukan tubuh manusia, menyeimbangkan kehidupan dengan harmonis antara manusia dengan virus yang jumlahnya buanyak  itu.

Allah akan menuruti kehendak kita jika kehendak Allah kita turuti. Maka tiada jalan lain dalam menghadapi penyakit kecuali semakin mendekatkan diri kepada Allah, selalu ingat kepada-Nya, menaati-Nya dengan banyak shalat, banyak sedekah, banyak menebar kasih sayang sesama, gerakan menolong kehidupan, membantu, memudahkan, dan terus berbuat baik. Semua kebaikan pasti berbalas baik, di antaranya nikmat sehat.

Tatkala saya mengakhiri menulis esai ini, saya membayangkan semua keluarga saya sehat. Saudara saya sehat. Guru saya sehat. Murid saya sehat. Teman saya sehat. Tetangga saya sehat. Jamaah saya sehat. Orang-orang yang pernah saya temui sehat. Orang-orang yang pernah saya bayangkan wajahnya sehat. Orang yang saya tonton di TV sehat. Orang-orang di rumah sakit tiba-tiba sehat. Orang sejagad sehat.

Sambil sekadar  iseng tetapi serius saya berdoa dengan redaksinya begini: Ya Allah Panjenengan gusti kula. Sedaya penguripan Panjenengan ingkang ngatur. Mung korona mawon, sipil mungguhing Panjenengan. Tebihaken saking tiyang. Sampun cekap  makhluke Panjenengan ajrih. Paringana ajrih namun dumateng Panjenengan. Ya Allah slamet slamet, sehat-sehat, urip-urip, ngibadah-ngibadah. Namung dumateng Panjenengan kaula gesang menika. Kaaabul

Akhirnya, asyik juga Covid-19 mampu membuat gerakan masyarakat sadar berdoa, bersaleh sosial,  dan bergaya hidup sehat. Cuci tangan. Menggunakan masker. Ketika bersin, menutup mulut. Berjemur. Rajin minum minuman berbahan herbal. Komoditi jahe, kunyit, temu lawak, kayu manis, dan sejenisnya menjadi laris. Isteriku pun akhir-akir ini rutin membuat minuman berbahan rempah-rempah  untukku. Oh segarnya. Salam sehat selalu. Hehehe. (*)

Oleh: Cak Sariban

, ,