Politik Transaksional, Apa Benar Diperbolehkan?

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tubanliterasi.id – Telingaku terasa geli mendengar kata-kata, bahwa politik transaksional adalah budaya. Karena itu dianggap salah satu syarat untuk memenangkan kontestasi politik, entah Partai Politik (Parpol) atau Organisasi Kemahasiswaan (Ormek). Ini budaya salah yang sampai hari ini terus menjadi pemandangan lumrah, sampai bahasa caci maki, ujaran kebencian pun dianggap hal biasa. Apalagi di era Media Sosial (Medsos) semua akan muncul dengan suatu jawaban, lumrah. Ada yang bilang, kalau membawa maslahah tidak papa, apa benar politik praktis demikian?

Kemudian hal ini menjadi semacam dalil pembenaran. Coba lihat, Pilkada, Pileg, Pilpres dan pil-pil yang lain. Pasti, tidak akan lepas dari yang namanya manoey politic (politik uang).

Kedua, bahasa yang tidak manusiawi, tidak pantas untuk dikonsumsi publik pun menjadi pemandangan yang lumrah, misalnya bahasa intrik politik, Cicak-Buaya, Gurita-Cikeas, Kecebong-Kampret, mungkin saja di tahun mendatang juga akan ada bahasa intrik politik yang baru. ‘Mbok ya hewan sak kebun binatang di absen kabeh, biar gak iri’.

Sahabat TB tahu, tanpa kita sadari setiap hari masyarakat sudah disuguhkan dengan bahasa yang tidak mencerminkan moral. Hari ini kita juga mendapatkan kembali pemandangan yang kurang elok, Konfrensi Besar (Kongres) organisasi pergerakan yang disusupi oleh oknum politik praktis. Ini menjadi era lanjutan dimana mahasiswa akan menjadi generasi penerus, yang juga ikut mengamini, bahwa politik transaksional adalah hal yang dianggap biasa dan diperbolehkan.

Sahabat TB harus paham, kedudukan tidak harus didapatkan dengan cara mempertaruhkan etika, tidak dengan cara ugal-ugalan adu kekuatan siapa yang membackup. Semua tidak dibenarkan, pun nglamar si doi dengan bawa parang.hehe.

Malah sedo diuber wong sak kampung sampean. Jadinya, cinta ditolak hati pun merana“.

Yang baik pakai etika, sopan santun, nggawe unggah-ungguh umumnya orang berpolitik yang membawa nilai maslahah. Agar demokrasi negara semakin berkualitas.

Sahabat TB tahu cerita Prabu Siliwangi sang raja Pajajaran, yang kondang ngaloko. Mau mempersunting Dewi Sumbang Larang saja, sang raja harus mau masuk Islam dan mengambil Tasbih di Tanah Suci (Makkah), sahabat TB tahu sang Prabu harus naik apa? Sang Prabu terbang menuju Makkah untuk mengambil Tasbih sebagi salah satu syarat untuk mempersunting Dewi Sumbang Larang. Keren toh.

La ceritane uripmu opo? Lagi ndwe ilmu pas-pasan kemlinti, negara arep dituku. Padahal arep nyiapno mas kawin gawe pujaan hati ae bingung.

Gakyo sahabat TB ikut sedih. Hehe.

Coba kita belajar dari orang dulu, mau merebut kekuasaan pakai siasat, intelektual dan kejadukan. Modalnya banyak, tidak cukup jual beli kekuasaan.
Persetan, dengan kesejahteraan, jika masih terjadi yang namanya politik transaksional. Itu namanya bukan politik kemaslahatan, tapi politik kemadlaratan.

Seharusnya, ketika menjadi mahasiswa harus belajar idealisme, bukan malah sebaliknya. Jika sulit dihindari, panggil saja sahabat TB, dan ajak diskusi. Pasti urusan negara dan perbadokan dijamin selesai.

Salam hormat, dari kader PMII pinggiran. Semoga hasil Kongres mendapat Ketua Umum yang berkualitas.

Salam pergerakan, tangan terkepal dan maju kemuka. (*)

Oleh: Bapake Mikail

, , , ,