Sawang – Sinawang Dan Agenda Liburan

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tubanliterasi.id – Pancen  wong urip iku sawang-sinawang. Demikian paunen-unen  Jawa. Artinya orang hidup itu saling melihat antara yang satu dengan yang lain. Si A melihat Si B kok enak tenan  hidupnya. Begitu pula sebaliknya (gantian)  Si B melihat Si A, atau melihat (obyek lain) Si C, kok ya enak juga hidupnya. Padahal para obyek (orang-orang yang dipandang) itu juga melaksanakan usaha (mencari ma’isyah/sumber nafkah untuk menghidupi sanak-keluarga) dengan penuh susah payah.

Setidaknya begitulah manusia dalam hidup dan kehidupannya. Semua manusia akan  dihadapkan pada sebuah titik relativitas tanpa batas. Yang penting bagaimana upaya dalam mencari barokahnya Gusti Allah Swt. Lantas kemudian mensyukuri apa yang ada. Yaitu sesuatu yang diamanatkan pada kita semua.

Suatu ketika ada seorang teman penulis yang non guru. Memberi komentar lewat dialog  guyon-mato atau parikena (onbrolan omong-omong kosong, sekenyanya)  katanya; “Enak ya, jadi guru itu. Lockdown begini ini banyak liburnya. Banyak nganggurnya di rumah. Sudah libur, gaji/bayaran tetap..!”. Belum sempat penulis membalasnya, teman yang berdagang di pasar itu melanjutkan; “Beda dengan orang-orang di pasaran seperti saya ini. Kalau nggak budal  tentu nggak dapat penghasilan. Terus anak-istri di rumah dikasih makan apa..?” gumamnya.

Saya  jawab; “Ya, memang begitulah hidup itu saling memandang. Diriku seolah-olah enak, kau pandang. Begitu pula diriku memandang dirimu malah amat sangat enak. Punya bisnisan di pasar. Bergelimangan dengan uang..!” selorohku.

Teman penulis itupun tertawa terkekeh-kekeh. Salah tingkah.

Lanjutku pula; “Kelihatannya lockdown  liburan gara-gara corona begini ini guru itu nganggur. Tidak !. Di rumah itu sejatinya menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Ada isian link kegiatan pondok romadhon secara online. Memantau murid-murid mengerjakan formatnya. Selalu komunikasi dengan walimurid. Kirim tugas-tugas mandiri lewat WA group murid. Membuat naskah ulangan dengan aplikasi link soal. Belum lagi nanti memberi penilaian. Yang kemudian merekap hasil nilai ulangan untuk dijadikan nilai rapot kenaikan kelas.

Ini semua membutuhkan dana untuk beli paketan internet. Sementara lembaga sekolah sama sekali tidak tersedia anggaran untuk beli paketan. Pulsa modem internet itu guru-guru beli sendiri. Jadi jangan anggap enteng. Kami enak-enakan tidak bekerja. Lalu makan gaji buta. Walau liburan begini, kami-kami masih mendapat giliran piket jaga kantor, lho..!” ucapku panjang-lebar. Demi memberi pencerahan kepada orang-orang yang omongannya ngelantur sesuka hatinya. Yang sukanya hanya memandang dengan sebelah mata.

Dan memang penulis pribadi selama lockdown di rumah ini, setelah memberi penugasan lewat daring, selalu ketak-ketik-ketuk. Bikin naskah. Terlebih akhir-akhir ini banyak even yang menawarkan menulis bersama. Ada yang mengajak membuat puisi, pantun, esai, best-practice dan opini. Termasuk ada undangan menulis yang digelar oleh gerakantubanmenulis@gmail.com.

Paling tidak dengan adanya aktifitas di bidang literasi kita membentengi sebuah penelitian yang menemukan, bahwa setiap 1000 orang Indonesia, hanya 1 yang gemar membaca. Hasil survey yang memprihatinkan bagi bangsa dan negara kita ini. Namun taka da salahnya hasil survey itu. Dari skope yang terkecil, di lembaga sekolah, banyak guru yang sambat. Tidak punya punya waktu.

Sesungguhnya bukan karena waktu yang menjadi halangan pokok dalam berliterasi. Namun, banyak yang mengkambinghitamkan waktu. Dijadikan alasan nggak kober nulis.  Soal waktu itu bisa diatur. Sesempit apapun, jika kita sanggup memperdayai waktu, insya-Allah agenda tulis-menulis akan terilis. Program literasi akan terjalani. Kegiatan baca-baca akan bermakna.

Tapi karena niatan di hati kita sepercik pun tidak ada, akhirnya kegiatan yang bersentuhan dengan perbukuan itu ditinggal berlalu. Kegiatan lain dijadikan alibi karena dipandang lebih urgensi. Malam hari akan mulai bikin narasi,  tenaga sudah terkulai. Capek, Ngantuk,  dan sebagainya. Terkadang alasannya diganggu anak-istri. Bukankah Gusti Allah menyediakan 2/3 malam yang sangat mujarab  untuk munajat?.

Usai bertaqorrub kepada Tuhan di sepertiga malam itu kenapa tidak kita gunakan kegiatan yang berdekatan dengan tulisan?. Mumpung masih ada waktu senggang yang cukup panjang. Kapan dimulainya aktivitas belum ada batas. Setiap ada informasi masuk sekolah, selalu dirubah. Untuk itu penulis mencoba mengambil hikmah.

Ternyata korelasi antara virus corona, lockdown di rumah terdapat banyak barakah, antara lain; Pertama, Memberlakukan hidup bersih dan sehat. Kedua, Adanya sinergi ekonomi. Ketiga, Masyarakat awam semakin mengenal kesehatan. Keempat, Munculnya analisa dari para ahli tentang ilmu kesehatan baru. Kelima, Protokol kesehatan semakin kuat dilingkungan masyarakat. Keenam, Meminimalisir keuangan. (*)

Oleh: Ahmad Fanani

, , ,