Tentang Belajar Jurnalistik Hingga Diskusi Lambe Turah

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Amrullah Ali Moebin

Pekan ini saya berkesempatan mendampingi anak-anak muda untuk belajar jurnalistik. Totalnya ada empat kelas. Setiap kelas ada sekitar 40 anak. Ini bukan jumlah yang sedikit. Meski model peserta yang berjumlah banyak, belajar berjalan menyaman dan membahagiakan. Itu versi saya. Semoga saja, para anak muda yang saya dampingi juga merasakan hal yang sama.

Belajar kami lakukan secara online. Ini bukan hal yang mudah pastinya. Sebab saya harus mengatur metode agar peserta merasa nyaman. Jauh sebelum pertemuan tatap maya, saya mulai meminta mereka mengungkapkan pendapatnya tentang jurnalistik. Mereka menuliskannya di kertas lalu menggunggah di IG masing-masing. Dari sana saya membaca perlahan pendapat mereka.

Saat bertatap maya inilah saya mulai sharing tentang apa jurnalistik dan seperti apa dunia di dalamnya. Banyak pertanyaan muncul dalam diskusi itu. Masing-masing kelas punya cara pandang dan pertanyaan yang unik.

Misal ada yang bertanya tentang apa beda pers dan jurnalistik. Termasuk apa beda reporter, jurnalis dan wartawan. Kedua pertanyaan soal istilah ini memang mendasar sekali. Seperti istilah pers. Ini istilah yang sangat umum digunakan untuk melebeli mereka yang bekerja di media massa khsusunya yang ada di ruang redaksi. Jika dirunut muasalnya pers itu sebutan mesin cetak dalam bahasa Inggris (press) dan Belanda (Pers), keduanya memiliki makna menekan. Boleh dikata, pers ya media massa itu sendiri.

Muncul lagi pertanyaan, seperti apa kerja kerja jurnalistik. Saya sampaikan menjadi seorang jurnalis kuncinya kegigihan dan integritas. Dua hal ini menjadi dasar. Soal kemampuan menulis dan teknik pengambilan gambar bisa dilatih. Siapapun yang masih bisa melihat dan meniru pasti akan bisa melakukan dua hal. Jika ingin menjadi ahli, tinggal menambah jam terbang. Namun, soal gigih dan memiliki integritas ini harus menjadi kunci awal.

Repot sekali jika piawai menulis tapi aras arasen terjun ke lapangan. Atau keren dalam melakukan liputan di lapangan tapi masih suka nerima uang dari narasumber. Yang ideal memang semuanya ada di dalam tubuh seorang jurnalis. Ya keren menulisnya ya gigih melakukan verifikasi. Keren ambil gambarnya ya tetap menolak amplop dari narasumber.

Mendengar diskusi di pertemuan awal kok sepertinya pembahasannya agak berat. Sebab ini muncul dari pertanyaan peserta. Saya hanya menjawab dan memberikan pemahaman.

Di akhir sesi saya bertanya tentang perbedaan media massa dan media sosial. Pertanyaan ini muncul karena ada salah satu peserta yang saat menjawab pertanyaan sedikit menyinggung tentang media sosial.

Salah seorang peserta ada yang menjawab tentang bahwa media sosial telah menjadi rujukan orang untuk membaca berita. Dari pernyataan itu diskusi lantas mengalir deras.

“Apakah yang dilakukan lambe turah adalah kayar jurnalistik? Dia kan mencantumkan sumber sumbernya juga.”

Begitulah kira-kira pertanyaannya. Saya perlahan menjelaskan perbedaan media sosial dan media massa. Saya mengajak mereka untuk membaca beberapa literatur tentang apa itu media massa. Dalam penjelasannya secara umum media massa adalah alat untuk menyampaikan informasi pada khalayak. Namun, Prof Cangara memberikan definisi yang lebih rinci yakni tentang alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak dengan menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, film, radio dan televisi.

Untuk memperjelas saya memberikan alternarif bahwa media massa juga disebut pers. Nah pers yang di dalam undang-undang pers 40/1999 dijelaskan sebagai lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang menjalankan kegiatan jurnalistik termasuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Kemudian jika dibaca pada pasal selanjutnya akan ada penjelasan perusahaan pers. Di sanalah ketentuan terlihat bahwa perusahaan pers harus berbadan hukum.

Artinya, media massa ini ada yang mengelola dan manajemennya. Ada pihak yang bertanggung jawab atas berita yang disampaikan. Serta mereka telah melakukan kerja kerja jurnalistik sesuai standart.

Lantas media sosial itu bagaimana. Dalam kajian komunikasi media sosial disebut sebagai new media. Setiap orang bisa memproduksi informasi dan disebarkan ke jagad masa. Komunikasi bisa terjadi dua arah. Namun, setiap informasi yang berdar harus dilihat siapa yang menyebarkannya. Keberadaan informasi juga masih perlu dilakukan verifikasi.

Meski demikian, media sosial juga digunakan oleh perusahaan pers untuk media penyalur karya jurnalistiknya. Sehingga, masih ada sebuah berita yang setidaknya akurat di media sosial asal perlu memperhatikan akun apa yang menyebarkan.

Lantas posisi akun lambe turah itu seperti apa? Jenis akun lambe turah dan sejenisnya hanya sekadar akun penyebar informasi dan memanfaatkan informasi untuk menarik perhatian publik. Selebihnya, dikembangkan menjadi bisnis di sana. Sebab mereka melayani endors. Mereka tidak dilindungi dalam undang-undang pers.

Rimba informasi di jagad maya saat ini membuat tugas para jurnalis semakin berat. Sebab mereka juga bertugas untuk melakukan verifikasi atas informasi bukan malah menjadi pendengung atas informasi yang simpang siur tersebut.

Untuk memahami isu isu jurnalistik, buku karya Rusdi Mathari yang berjudul Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam dan Karena Jurnalisme Buka Monopoli Wartawan. Nikmatilah dua buku ini di teras rumah ditemani segelas teh hangat dengan sedikit irisan jeruk nipis.

Selamat Belajar.

, , ,