TKW Perkasa Dan Bias-Gender Dalam Memahami Perceraian Buruh Migran

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tubanliterasi.id – Ketika mau berangkat, ia diskusi dulu dengan suaminya. Sebut saja Yu Siti namanya. Niatnya untuk menjadi TKW (buruh migran) adalah mencari ekonomi. Sebab penghasilan suami tidak akan bisa untuk membuat rumah, juga menyiapkan biaya hidup jangka panjang. Apalagi suaminya hanya kerja serabutan. Setelah nikah, nunut orangtua dan mertua tidak enak. Bagaimanapun, suami-istri membangun keluarga sebagai unit Lembaga social yang tak akan bisa dicampuri oleh keluarga lainnya.

“Mustahil kita akan punya rumah jika penghasilan kita tetap seperti ini, Mas. Ijinkanlah aku pergi ke  luar negeri”, pinta Yu Siti pada suaminya waktu itu. Suaminya, Kang Bejan,  pun mengijinkan. Anaknya yang sudah kelas TK dirawat suami dan dibantu keluarga.

*

“Kamu itu suami apa, punya istri kok dibiarkan pergi ke luar negeri. Dan di sana pasti punya kenalan lelaki lain. Apa kamu tahu apa yang dilakukan istrimu di sana?”, teman-teman Bejan mengolok-ngolok lelaki itu. Teman-teman Bejan lain juga menggodanya dengan berbagai cara pandang. Bahkan setelah beberapa bulan kepergian Yu Siti istrinya, teman-temannya mengajak Bejan  pergi ke Cafe remang-remang.

Awalnya kepergian istrinya itu memang membuatnya tak enak. Bahkan ada tuduhan dan olok-olok  dari suami dan tetangga bahwa ia “suami yang tak bertanggungjawab”. Membiarkan istri pergi jauh ke luar negeri untuk cari uang. Hal itu  membuatnya stress dan tertekan. Bahkan tetangganya yang sok agamis bilang: “Lelaki yang nggak bisa nafkahi istrinya itu dosa”, katanya setengah berceramah.

“Ayolah, bersenang-senang. Wong punya istri yang nyarikan uang, ya gunakan dong uangnya untuk bersenang-senang”, teman Bejan kemudian terus berkata merayu. “Dia jauh tak bisa membuatmu senang, ayo kita ke Cafe lagi. Purel cantik siap menemanimu nyanyi”.

Sementara Yu Siti istrinya bekerja keras di luar negeri dengan niat serius untuk mengumpulkan uang. Si Bejan  malah semakin tidak percaya diri pada jarak yang tercipta. Ia gampang dipengaruhi oleh teman-temannya. Gampang tergoda. Dan bahkan ia jatuh cinta pada mbak Purel di Cafe remang-remang yang menemaninya nyanyi dan minum. Ternyata memang Bejan sebagai laki-laki mudah tergoda. Sedangkan istrinya yang dikejauhan terus ingin mempertahankan hubungan, dengan cara sebisa mungkin menelfon Bejan, anaknya, dan keluarga serta dulur-dulur yang ada di rumah.

Tapi Yu Siti  mulai melihat keanehan. Itu terjadi di bulan ke limabelas keberadaannya di luar negeri. Setelah ia mendengarkan laporan dari orangtuanya (mertua Bejan) bahwa suaminya (Bejan) jarang pulang ke rumah dan sering pergi ke Cafe, jarang merawat anak, perempuan itu mencurahkan isi hatinya pada si laki-laki lewat telfon. Tapi belakangan seringkali saat ditelfon dan video call, Bejan tak mau mengangkat. Sedangkan smartphone yang dipakai Bejan  sebenarnya adalah dari uang kiriman Yu Siti. Si istri yang jadi TKW ini berniat baik membelikannya HP canggih agar tiap waktu bisa V-Call.

Saat ditelfon berkali-kali Bejan tidak mengangkat. Karena saat itu sebenarnya Bejan  sedang berada di Cafe remang-remang, sedang pangku-pangkuan dengan mbak Purel yang membuatnya lupa diri dan tergila-gila. Kisah pun berada dalam klimaks ketika Yu Siti  mendapatkan kiriman video di mana dalam video itu suaminya sedang mabuk dan berpelukan sambil menyanyi di ruang karaoke cafe remang. Kiriman dari nomor gelap itu, entah dari mana, entah apa motifnya, melukai hatinya.

Awalnya ia mencari tahu nomor siapa itu, tiba-tiba mengirimkan video suaminya. Tapi bagaimanapun, konten pesan video itulah yang melukai hatinya. Saat ia sedang istirahat kerja dan ingin telfon suaminya, saat jarak menekan dirinya bersama keluarganya, ternyata ada fakta bahwa selama ini suaminya tidak dipercaya.

Sebuah keyakinan muncul dalam pikiran dan hati Yu Siti. Ia telah berada di luar negeri. Dan ia telah berniat untuk kerja, untuk cari uang. Maka sebuah keputusan dilakukannya. Ia menelfon Ibunya, yang merawat anaknya karena ayah dari anak itu ternyata jarang merawat anaknya. “Bu, tolong sampean buka Rekening. Kirimanku ora tak lewatne bojoku maneh. Bojoku ra iso dipercoyo.”

Ibunya Yu Siti setuju. Dibantu sudara sepupunya, mulai saat itu perempuan TKW itu jika kirim uang tidak pada suaminya. Bahkan ia berpikir, tak akan lagi hirau apakah Bejan suaminya telfon atau tidak. Mulai saat itu, ia hanya berniat untuk kumpulkan uang. “Aku harus bisa buat rumah! Kalau tidak, nanti tak nyantol”. Untuk menenangkan hatinya, Yu Siti juga mulai sering keluar berkumpul dengan teman-temannya sesame TKW. Biasanya mereka bertemu di Victoria Park.

Pada saat yang sama, kabar tentang hal itu menyebar di kalangan tetangga. Bahkan juga di kalangan  teman-teman Bejan, lelaki  yang telah berubah dan nyatanya  tak tahan godaan itu. Lelaki itupun sebenarnya juga marah sejak kiriman uang tak dilewatkan padanya lagi. Ia seperti terlukai. Bukan hanya menyebabkan ia tak lagi bisa lagi pergi ke Cafe remang-remang karena “subsidi” macet. Tapi juga karena ia menganggap bahwa tindakan istrinya “mengembargo ekonomi” (tak lagi mengirimi uang) itu adalah bentuk kejahatan—bukan sebagai akibat dari ulahnya yang justru lebih jahat.

Tapi ternyata karena sejarah adalah ‘HISTORY’ (kisah dari laki-laki), berita yang tersebar adalah bahwa Bejan itu “dimohi bojone”. Kabar yang bias-gender, kabar dan info yang terdistorsi karena dominasi kepentingan dan ideologi laki-laki (patriarki). Karena marah dan setengah dendam, ternyata Bejan justru membesar-besarkan cerita bahwa istrinya yang jahat. Pertama-tama teman-teman cangkruknya yang menjadi curhatnya seakan ia yang didzolimi.

Beritapun tersebar begini: “Siti masan wes sukses saiki ngemohi Bejan”. Varian-varian ucapan yang tersebar akibat bias-gender juga seperti ini misalnya: “Ya ngunu iku, wong wedok yen iso golek duit dewe, bojone didupak!” Istilah “dimohi bojone sing neng Hongkong” menjadi kosakata yang seakan memihak Bejan  yang istrinya jadi buruh migran. Bahkan hanya karena cara pandang bias kepentingan laki-laki seperti ini, hanya dengan melihat aktivitas Yu Siti yang Tiktokan dengan mengambil video di taman Victoria, seorang Netizen ngerumpi dengan temannya: “Deloken, ngunu kui lho kegiatannya TKW kui, megal-megol, seneng-seneng mari ngemohi bojone”.

Prasangka tersebar luas. Sebab-sebab hubungan yang mulai retak antara si Bejan dan Yu Siti tidak diketahui. Ternyata memang tidak banyak yang tahu bahwa Bejan sering pergi ke Cafe bahkan menggunakan uang kiriman istrinya. Ternyata juga takt ahu bahwa Bejan juga beberapa kali mengisikan pulsa Mbak Purel yang menemaninya karaoke. Dan mungkin banyak yang tidak tahu bagaimana Bejan pernah marah-marah dan mengumpatkan kata-kata penuh kekerasan ketika Yu Siti melui Video Call mengingatkan tindakannya. Tindakan laki-laki yang dilakukan pada perempuan sering kali tidak diketahui. Sementara kabar yang tersiar di lingkungan tetangga dan masyarakat adalah dari kepentingan dan prasangka laki-laki saja. Dan pada akhirnya Yu Siti dan Bejan cerai.

Awalnya Yu Siti sudah mendiskusikannya dengan orangtuanya, ayah dan ibunya. Memang orangtua  Yu Siti tahu bagaimana perjuangan anaknya dan bagaimana sikap Bejan suaminya ketika ditinggal. Kepulangan pertama Yu Siti ingin memastikan bahwa ia ingin menangis sekerasnya di hadapan orangtuanya. Juga ingin memeluk lekat dan dalam anaknya. Setelah di Hongkong dua tahun dan pulang, ia memang bertemu Bejan, tapi lelaki itu tampaknya sulit diajak komunikasi, terlanjur malu karena nyata-nyata video yang dikirim itu benar. Bahkan ketika Yu Siti pulang, anehnya, justru bejan yang marah dan ngambeg tak mau menemui.

Yu Sitipun dalam hati dan pikiran sudah siap untuk kehilangan Bejan. Cerai tampaknya sudah  nyata, meskipun secara sah belum bisa dilakukan karena Bejan tampaknya tak bisa ditemui. Berbekal tekad dalam hati bahwa ia ingin menyempurnakan rumah yang sudah terlanjur dibangun tapi belum jadi total, Yu Siti pun pergi kembali ke Hongkong untuk yang kedua kalinya.

Sedangkan prasangka bahwa Yu Siti “ngemohi bojone” tetap santer. Pihak laki-laki, terutama yang sudah menjadi penerima pesan dari perspektif Bejan, juga menganggap bahwa “bojone Bejan lunga maneh neng Hongkong, Bejan jan gak dienggep tenan. Ya ngunu kui yen wong wedok ditokne golek duit dewe, mesti ndupak wong lanang”. (*)

*

(Kisah ini adalah fiksi berbasis kenyataan. Tetapi nama dalam cerita ini bukan nama sebenarnya).

Oleh: Nurani Soyomukti

, , ,